Menjenguk si Komodo

 

beberapa bulan lalu saya berkesempatan jalan-jalan ke Taman Nasional Komodo. Rencananya sih saya tadinya mau ke Pulau Komodonya langsung, tapi kemudian tujuan dirubah ke tetangga dekatnya, Pulau Rinca. Kata pemandu wisata yang saya sewa, kesempatan melihat dan bertemu langsung hewan yang jadi kebanggaan Indonesia ini jauh lebih besar di Rinca. Logikanya karena Pulau Komodo jauh lebih besar dan luas, maka Komodo pun lebih menyebar. Populasi yang tidak terlalu banyak juga menjadi salah satu faktornya. Entah ini benar atau tidak. Yang jelas, karena juga lokasi yang lebih jauh dan ke-parno-an naik perahu juga menjadi hal yang saya pertimbangkan untuk akhirnya memilih Pulau Rinca ketimbang Pulau Komodo. Toh, tujuannya juga sama mau bertemu langsung dengan kadal raksasa di habitat aslinya.

labuan bajo

Untuk melihat komodo ini agak perlu perjuangan. Dari Bali (dari lombok juga bisa) kita harus terbang ke Labuan bajo terlebih dahulu. Kota pelabuhan kecil ini menjadi tempat hampir semua perjalanan ke taman nasional Komodo ini bermula. Pesawat Trans Nusa yang saya tumpangi mendarat dengan selamat di bandara Komodo yang mungil. Ternyata tak separah yang saya kira, pesawatnya bagus dan lancar. Setelah bebersih di Hotel yang saya tempati selama 3 hari di sini, saya diajak keliling labuan bajo. Makan siang di Panorama restoran dan berakhir jalan-jalan ke Gua Batu Cermin yang cukup unik. Keesokan harinya baru lah petualangan ke Taman nasional Komodo di mulai. Pagi-pagi buta, sekitar jam 6 pagi, pemandu saya sudah menjemput. Terpaksa sarapan pun dibungkus dan di makan di perahu. Perahu yang saya sewa ini ternyata jauh dari yang saya bayangkan. Kirain bakal dapat perahu nelayan yang biasa saya lihat di Pangandaran. Ternyata perahu yang ini lumayan besar, ada tempat duduk dan meja untuk penumpang di depan nahkodanya. Terus juga ada toilet dan kabin tempat tidurnya. Saya tidak sempat bertanya harga sewanya berapa karena perahu ini sudah termasuk dalam biaya tur yang saya bayar di jakarta.

pulau pulau gersang sepanjang perjalanan

Untungnya perjalanan dimulai di pagi buta adalah kesempatan melihat matahari terbit dan juga jadi tidak terlalu panas. Meskipun perahunya ada penutupnya, tetap saja sengatan mataharinya menjadi musuh yang utama. Durasi ke Rinca ini memakan waktu hampir 3 jam. Sepanjang jalan, pulau-pulau kecil eksotis menjadi pemandangan istimewa. Pulau-pulau ini nampak gersang kecoklatan dengan sedikit pepohonan tumbuh di atasnya. Menjelang pukul 9, perahu saya sudah menepi di Loh Buaya, dermaga Taman Nasional Komodo Pulau rinca ini.

loh buaya

Baru menjejakan kaki di gerbang Loh Buaya ini, pemandu saya sudah langsung memberikan kode bahwa ada seekor Komodo muda sedang berjemur, tepat disebelah pintu masuk. Bulu kuduk saya langsung merinding. Entahlah, kenapa tiba-tiba perasaan was-was bercampur penasaran datang.

disambut komodo yang sedang bersantai

Ternyata benar, seekor komodo dengan ukuran sedang terlihat santai menyenderkan kepalanya di sebuah batu. matanya yang besar tampak sangat menikmati siraman sinar matahari. Sebuah penyambutan yang menakjubkan.

Setelah itu berjalan sejauh satu kilometer dari dermaga, sampailah saya di sebuah komplek yang merupakan pusat Taman Nasional Komodo pulau rinca. Ada beberapa bangunan di sekitar area ini. Ada tempat untuk registrasi dan informasi tentang komodo. Ada juga kantin yang menyediakan minuman dan tentunya tempat tinggal para pekerja di sini. Terlihat beberapa pekerja bangunan sedang membangun sebuah bangunan, sungguh berani sekali para pekerja ini mondar-mandir tanpa takut kehadiran Komodo.

pos jaga

Di sini saya sudah mendapatkan suguhan pemandangan menarik. Seekor bayi komodo dengan manis berada di atas sebuah ranting pohon. Agak susah lihatnya karena warnanya yang agak gelap. Konon, bayi komodo ini memang susah ditemui di sini karena ketika masih muda, bayi-bayi komodo ini rawan sekali akan ancaman dari predator lain seperti ular dan juga dari kaumnya sendiri. Yap, komodo-komodo ini ternyata juga hewan yang kanibal. Jadi sampai mereka cukup besar dan mampu membela diri, para bayi-bayi ini kan bersembunyi. Salah seorang guide yang ada di sana sempat menyeletuk bahwa saya beruntung hari ini, karena Nicolas Saputra yang beberapa hari sebelumnya mampir ke sini sangat berambisi untuk memotret bayi komodo ini namun tak berhasil, sementara saya malah tidak usah repot-repot mencari langsung disambut di depan pintu🙂 Karena kondisi cuaca yang cukup panas, akhirnya saya memutuskan hanya mengambil rute pendek untuk treking di Rinca ini. Saya dipandu guide yang masih berseragam Pramuka. Sayangnya saya lupa namanya. Dia sedang menjalani praktek untuk tugas sekolahnya. Haha, sungguh sebuah praktek yang tak biasa. Dia membawa tongkat dengan ujung bercabang yang biasa kita lihat di tv-tv sebagai senjata untuk menghalau komodo. Baru berjalan sebentar, belum keluar kompleks malah, saya sudah disuguhi pemandangan menakjubkan sekaligus membuat bulu kuduk tegang. 5 ekor Komodo dengan berbagai ukuran dengan asyiknya terdiam di bawah sebuah bangunan. Mereka santai tak terlihat terganggu dengan lalu lalang manusia di sekitar. Kata guide saya sih, sepertinya mereka baru saja makan jadi sudah tenang dan beristirahat. Seekor Komodo besar tiba-tiba keluar dari semak-semak dan bergabung dengan mereka. Saya cuma bisa terdiam terpaku. Setelah mengambil foto dengan hati-hati kami pun memulai perjalanan.

sisa-sisa buruan Komodo

Hutan di Rinca ini tak beda dengan hutan-hutan kebanyakan. Hanya saja ada beberapa bagian yang tandus dan merupakan savana. Pohon palem lontar menjadi daya tarik tersendiri. Sayangnya semakin tebal semak, makin susah untuk bertemu komodo ini. Guide saya menunjukan beberapa sarang komodo yang masih aktif ataupun tidak. Trek pendek ini lumayan untuk para treker pemula atau turis biasa yang tidak mau terlalu cape. Beberapa tulang belulang sisa perburuan Komodo juga menjadi salah satu display di sini, ada tengkorak kuda, monyet, kerbau dan rusa.

pemandangan di jalur treking

Setelah hampir satu jam menyelusuri jalur pendek ini saya hanya menemui beberapa komodo lagi. Tapi tidak sedekat dengan komodo-komodo yang ada di sekitar pos jaga. Beberapa kali juga saya berpapasan dengan para turis dan treker lainnya. Minum soda dan bercakap-cakap dengan guide di kantin menjadi acara terakhir saya di sini sebelum akhirnya pulang lagi ke Labuan bajo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s