La Vie En Rose, Jatuh Cinta Pada Marion Cotillard

December 19th, 2007 § Leave a Comment

lavie_finalkeyart.jpg

Entahlah sudah berapa lama saya tidak merasakan sensasi ini pada penampilan seorang aktris pada sebuah film. Terakhir mungkin saya begitu terpukau pada akting gemilang Reese Witherspoons di Walk The Line, dua tahun silam. Sampai saat ini Reese adalah aktris paling saya sukai. Semua filmnya saya koleksi dan tonton berulang-ulang.

Kemarin ini saya nonton beberapa film di JIFFEST. Salah satunya La Vie En Rose, film perancis yang berjudul asli La Mome. Tadinya teratarik setelah membaca reviewnya yang bagus di internet plus ada kemungkinan film seperti ini gak bakal diputer di 21. Ternyata gak sia-sia karena saya justru merasakan sensasi yang sama ketika saya menyaksikan Reese Witherspoons bernyanyi sambil memetik alat musik traditional country di Walk The Line.

« Read the rest of this entry »

The Simpsons, Ngakak dan Ngakak!

August 1st, 2007 § 1 Comment

Akhirnya nonton juga, setelah gak jadi mulu. Semalem baru dapat tiket di Plaza Senayan XXI studio 2. Pesennya sih dari siang pas masih sepi gitu dan masih dapat kursi strategis.

 

Ternyata emang penuh banget. Sebenarnya sih gak terlalu ngefans sama serial teve-nya yang masih wara-wiri di Starworld, bahkan malah sekedar numpang lewat doang. Untungnya filmnya gak ada hubungannya cerita sama serialnya, jadi bisa ngikutin film ini seperti nonton film lain.

Film berating remaja ini emang bener-bener gokil. Ceritanya soal kebodohan Homer yang tanpa sengaja merusak danau di kota mereka tinggal yang mengakibatkan mereka terisolir setelah dikurung dalam sebuah kubah raksasa. Setelah diusir warga, Homer dan keluarga ini bahu membahu berjuang untuk menyelamatkan warga  kota mereka. Dari awal sampai akhir ditanggung bakal mengocok perut deh. Meskipun hampir sebagian besar humor berasal dari kebodohan Homer dan keluarganya ini.

Gak nyesel nonton film singkat ini (berasa jadi nonton serial tevenya sejam-an) hahhahaha…pesannya pun lumayan mengena mengenai global warming tea…lumayan buat hiburan. oh ya, jangan buru-buru keluar pas film selesai, tunggu sampai credit tittle selesai…banyak adegan-adegan seru dan lucu di sini.

masih terngiang-ngiang lagu favoritnya Marge…

[sonific 7e7576d5f1394547df50e245c24910a4cf074ccd]

Terpesona Oleh Harry Potter!

July 16th, 2007 § Leave a Comment

harrypotterharry-potter-and-the-order-of-the-phoenix-posters.jpg

Sebagian teman saya bilang, Harry Potter And The Order Of The Phoenix (HPOOP)mengecewakan. Banyak yang hilang dari bukunya yang luput dilayar lebarkan oleh David Yates sebagai sineas seri ke 5 ini. Entahlah, mungkin karena masalah selera sepertinya. Buat saya, HPOOP justru mengesankan. David Yates berhasil memadatkan jumlah halaman yang sampai 1200-an di buku versi Indonesianya ke dalam pita film sepanjang hampir 138 menit. Memang sebagian cerita di hilangkan, bahkan adegan Quiditch yang mengisahkan kepahlawanan Ron juga sama sekali tak disinggung. Tapi sama sekali tidak mengganggu penonton menikmati kisah perjuangan melawan teror kembalinya sang pangeran kegelapan, Voldemort. Dari segi pemain sama sekali tak mengecewakan, pemain lama bermain stabil, bahkan perubahan fisik 3 pemain utamanya justru semakin mempesona. Pemain baru seperti Imelda Staunton yang memerankan Dolores Umbridge, Helena Bonham Carter sebagai Bellatrix Lestrange juga bermain luar biasa. Jangan lupakan si manis Evanna Lynch sebagai Luna Lovegood. Semua bermain bagus. Spesial efeknya juga tidak mengecewakan. Adegan pamungkas di departemen misteri benar-benar menakjubkan. Mungkin karena banyaknya adegan ‘ngobrol’ di awal cerita yang membuat teman-teman saya mengeluh kalau film ini kurang bagaimana…! Tapi sekali lagi namanya juga tontonan, tentunya selera orang tidak selalu sependapat. Buat saya justru film HPOOP ini termasuk yang terbaik dari 5 seri HP yang sudah beredar. Tidak sia-sia mengantri dan datang lebih awal untuk dapat kursi terbaik untuk nonton film ini.

The Photograph:Jatuh Cinta Sama Shanty!

July 10th, 2007 § 2 Comments

photo.jpg

Waduh, Shanty seharusnya lebih serius jadi aktris deh ketimbang jadi penyanyi. Setiap kali muncul di layar lebar, dia selalu mencuri perhatian. The Photograph jadi saksi bagaimana sekali lagi Shanty membuat saya terpesona pada bakat aktingnya. Di sini Shanty berperan sebagai Sita, penyanyi karaoke yang banting tulang untuk mengirimkan uang pada anak dan neneknya yang dalam film cuma terdengar suaranya lewat telepon. Setelah bermasalah dengan germo bernama Suroso (Lukman Sardi), Sita terdampar pada rumah kos milik lelaki tua keturunan bernama Johan (Lim Kay Tong) yang berprofesi sebagai fotografer. Lambat laun antara Sita dan Johan terjalin hubungan manusia yang unik. Johan ternyata menyimpan masa lalu kelam.

Shanty sangat bagus bermain sebagai Sita. Sepertinya peran ini memang untuknya. Wajah, gerak gerik dan suaranya benar-benar menjelma pada Sita, meskipun agak mengingatkan akan perannya sebagai Siti di Berbagi Suami. Aktor Singapura, Lim kay Tong juga bermain prima. Para pendukung lain seperti Indy Barends, Lukman Sardi, Indra Bekti, Nicolas Saputra, Dorce juga bermain gemilang. Nico bisa jadi bakal jadi pembicaraan, mengingat perannya di sini sebagai waria pada scene wawancara kerja yang sebenarnya tidak penting juga ada di film ini.

Sayangnya skenario yang digarap Nan Achnas sendiri, seperti kebanyakan film indonesia lainnya yang sok nyeni, malah membuat ngantuk, capeeeeeeeek bo! untungnya gambar-gambar yang ada di film ini benar-benar penyegaran mata, hingga bisa membuat mata terus terjaga. Kota Semarang yang jadi lokasi film ini juga terlihat sangat artistik sekali.

The Photograph cuma oase yang setidaknya disyukuri kehadirannya ditengah-tengah gempuran film-film horor gak jelas dan film-film hollywood yang membombardir bioskop kita. Tapi jangan berharap film seperti ini akan diantri banyak orang, wong pas saya nonton saja, mungkin hanya 10-12 orang yang menonton film ini. Kontras banget sama studio sebelah yang memutar Transformer. Untungnya kelelahan 95 menit terbayar oleh kehadiran shanty di film ini….

Love Is Cinta, Heart Seri 2 Yang Hampir Tiada Beda!

May 17th, 2007 § 7 Comments

Setahun lalu Heart yang mengantarkan Nirina Zubir menjadi Aktris Terbaik diberbagai festival film berhasil mengharu biru dunia perfilman Indonesia. Heart boleh jadi film terlaris tahun 2006. Sukses ini juga mengangkat nama Acha Septriasa dan Irwansyah sebagai pasangan sukses lewat duet soundtrack dari film tersebut.

Setahun berlalu, sekarang muncul film yang boleh jadi adalah reinkarnasi dari Heart. Judulnya Love Is Cinta. Bayangkan, hampir semua cast dan crew yang mengantar sukses Heart diboyong untuk bermain lagi di sini. Hanya saja mereka bertukar posisi. Acha yang hanya jadi peran pembantu di Heart, naik kelas menjadi sang bintang menggantikan Nirina yang kali ini hanya beroleh peran sebagai reporter televisi yang bahkan tidak penting sama sekali perannya. Irwansyah, Unique Priscilla juga kembali dengan peran kecil mereka. Begitu juga Hanny r Sapoetra yang kembali menyutradarai film ini. Mungkin hanya Melly Goeslaw saja yang tidak berpartisipasi lagi.

« Read the rest of this entry »

Spiderman Hilang Kendali

May 5th, 2007 § 3 Comments

spi3.jpg

Saya tidak terlalu suka dua seri awal dari Spiderman. Biasa-biasa aja. Nonton Spiderman 3 ini juga karena pengen mencoba suasana baru dari bioskop Plasa Senayan yang sekarang sudah berubah wajah jadi Plasa Senayan XXI. 5 studio dari 8 studio yang tersedia muter film ini, jadi tidak seperti biasanya, antrian dan kesempatan dapat tiket film ini gampang banget. Kesannya jadi gak eksklusif….hahahaha…

 Spiderman 3 ini masih gak beda jauh sama film yang lalu, masih mengandalkan kepahlawanan alter ego Peter Parker (Tobey Maguire) dalam menumpas kejahatan, yang sebenarnya kali ini lebih didominasi balas dendam antar tokohnya.  Harry Osborn (James Franco) bertekad membalaskan  kematian ayahnya Goblin (William Dafoe) dari Spiderman. Kemudian balas dendam Peter/Spiderman atas pembunuh paman tercinta, Flint Marco/ Sandman (thomas hayden Curch), plus balas dendam fotografer rival Peter, Eddy Brock (Topher Grace).

Spiderman jadi sosok menggelikan dan hilang kendali setelah terkena semacam parasit alien yang merubah warna kostum Spidey menjadi hitam, plus perubahan sifat Peter yang menjadi aneh. Kirsten Dunts, juga nampak mengerikan ketika berakting menyanyi, adegan lipsync-nya nampak tidak berhasil. Hanya James Franco dan Thomas Haden Church yang mampu membawakan karakternya dengan baik. Topher Grace sendiri cukup berantakan membawakan perannya. Apalagi cerita sekuel ketiga ini juga banyak menyelipkan adegan-adegan yang dipaksakan untuk mendapat kelucuan

 Sebagai Film pembuka musim panas, jelas Spiderman cukup mengecewakan saya…semoga kehadiran Shrek 3, Pirates Of The Carribean:At The World End, Harry Potter dll bakal memuaskan saya nantinya…

Where Am I?

You are currently browsing the Review category at WODJO'S BLOG.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.